Pemandangan Gunung Fuji dan Pohon Maple Daun Merah

Pemandangan Gunung Fuji dan Pohon Maple Daun Merah

Sunday, March 29, 2015

Mengenal Macam-macam Tipe Ramen, Mie Khas Dari Jepang

berbagai macam ramen


Ramen dari berbagai daerah di Jepang

Hokkaido

  • Kushiro ramen (Kushiro)
Rasa kuah tidak begitu tajam, mi kecil dan halus-halus.
  • Kitami ramen (Kitami)
Kuah rasa kecap asin yang mengandung kaldu bawang bombay.
  • Asahikawa ramen (Asahikawa)
Mi berbentuk keriting.
  • Sapporo ramen (Sapporo)
Salah satu dari 3 jenis ramen yang populer di Jepang. Kuah adalah rasa miso.
  • Hakodate ramen (Hakodate)
Kuah rasa shio khas Hakodate. Sejumlah penjual ramen di kota Hakodate memakai bubuk keju sebagai penyedap.

Daerah Aomori

  • Tsugaru ramen (Hirosaki)
Kuah rasa kecap asin dari kaldu ikan (niboshi) dan tulang ayam.
  • Sendai ramen (Sendai)
Kuah memakai miso khas kota Sendai.
  • Sakata ramen (Sakata)
Kuah rasa kecap asin dengan mi buatan tangan.
  • Yonezawa ramen (kota Yanezawa)
Kuah rasa kecap asin.
  • Shirakawa ramen (Shirakawa)
Kuah dengan rasa kecap asin yang lebih kuat dibandingkan kitakata ramen atau yonezawa ramen. Sebagian besar penjual mi menggunakan mi buatan tangan.
  • Kitakata ramen (Kitakata)
Salah satu dari 3 jenis ramen yang disukai orang Jepang. Kuah dibuat dengan air dari bawah tanah.

Daerah Kanto

  • Tokyo ramen (Tokyo)
Bahan dasar kuah tokyo ramen adalah kaldu katsuobushi ditambah saus kecap asin yang menjadi resep rahasia masing-masing penjual ramen. Di atas mi ditambahkan chasiu, bayam, telur rebus, menma, dan irisan daun bawang. Masakan mi yang sejenis seperti ogikubo ramen dan ebisu ramen masih tergolong ke dalam tokyo ramen.
  • Sanmamen(生馬麺)(Yokohama)
Mi rebus berkuah ala Cina ditambah tumis sayuran dan tauge di atasnya. Jenis mi seperti ini mulai dikenal seusai Perang Dunia II. Kuah bisa berupa rasa shio atau rasa shoyu. Lauk berupa chasiu, daun bawang, sayur bayam, dan beberapa lembar nori.
  • Abura soba (kota Musashino)
Ciri khas mi ini adalah kuah yang berminyak-minyak.
  • Tonkotsu shoyu ramen (Tokyo)
Kuah kental rasa tonkotsu (tulang babi) dan rasa kecap asin yang banyak dijual penjual mi di Tokyo.
  • Hachioji ramen (Hachioji)
Ramen dengan kuah kecap asin yang agak kental.
  • Takeoka Ramen (Futtsu, Chiba)
Kuah rasa kecap asin dengan irisan bawang bombay.
  • Sano ramen (Sano)
Kuah rasa kecap asin dari kaldu tulang ayam dengan banyak tambahan bumbu.
  • Fujioka ramen (Fujioka)
Mie buatan tangan dengan kuah berbumbu tajam rasa kecap asin dari kaldu tulang ayam.
  • Stamina ramen (Mito dan beberapa tempat lain)
Mie kuah rasa kecap asin dengan tambahan tumis sayuran.
  • Stamina ramen Prefektur Saitama
Kuah rasa kecap asin dengan doubanjiang.

Daerah Shinetsu (Niigata) dan sekitarnya

  • Tsubamesanjo ramen (kota Tsubame dan kota Sanjo)
Ramen yang diberi irisan bawang bombay di atasnya
  • Niigata ramen (kota Niigata)
Kuah rasa kecap asin yang tidak tajam dengan tambahan minyak ayam supaya kuah tidak cepat menjadi dingin.
  • Nagaoka ramen (kota Nagaoka)
Kuah kental dengan penyedap berupa jahe segar.
  • Toyama "black" (kota Toyama)
Kuah kental rasa kecap asin yang hampir berwarna hitam sehingga sering disebut crack dari Toyama. Kuah rasa asin dan sebagai penyedap diberi lada hitam.

Daerah Tokai

  • Takayama ramen (Takayama)
Sering disebut hida ramen dengan kuah katsuobushi rasa kecap asin. Penduduk setempat menyebutnya sebagai chuka soba.
  • Taiwan ramen (kota Nagoya)
Mi dengan kuah rasa kecap asin dari kaldu ayam. Masakan mi ini pertama kali diperkenalkan oleh sebuah restoran Taiwan. Di atas mi ditambahkan tumis sayuran dengan daging, cabai, dan bawang putih.
  • Betokon ramen (kota Ichinomiya)
Kuah dengan bawang putih yang banyak. Ramen jenis ini diperkirakan tercipta di masa Perang Vietnam, namun betokon juga diperkirakan sebagai singkatan dari vietkong.

Daerah Kinki

  • Ramen kyoto (Kyoto)
Ramen kyoto memiliki tiga jenis kuah: rasa kecap asin yang kental, kuah berminyak-minyak, dan kuah sangat kental yang berminyak. Di atas mi diberi penyedap berupa tauge, chasiu, dan menma.
  • Kobe ramen (Kobe)
Jika orang memesan chasiu ramen di ramen di Kobe, maka penjual akan memberikan ramen dengan berlembar-lembar chasiu di atasnya. Di atas meja sering dihidangkan kimchi sayur kucai dan asinan lobak.
  • Tenri ramen (Tenri)
Kuah rasa kecap asin dengan bumbu doubanjiang dan bawang putih. Di atas mi ditambahkan tumis sawi putih dan kucai.
  • Wakayama ramen (kota Wakayama)
Kuah kental rasa tonkotsu dengan saus kecap asin. Di atas mi ditambahkan kamaboko. Penjual mi banyak menggunakan kecap asin karena kota Wakayama adalah pusat industri kecap asin.
  • Banshu ramen (kota Nishiwaki)
Kuah rasa kecap asin.

Daerah Chugoku dan Shikoku

  • Sanuki ramen (asal kota Mitoyo)
Daerah ini terkenal dengan produksi udon buatan tangan, sehingga penjual ramen juga menggunakan mi buatan sendiri. Kuah dengan rasa tidak tajam merupakan perpaduan antara rasa kuah udon dan kuah ramen.
  • Okayama ramen (asal kota Okayama)
Di kota Okayama terdapat banyak sekali penjual ramen yang menjual ramen yang dibuat dengan resep khas, namun umumnya menggunakan kuah kecap asin.
  • Fukuyama ramen (kota Fukuyama)
Kuah fukuyama ramen hampir sama dengan onomichi ramen tapi dengan rasa tidak terlalu tajam.
  • Onomichi ramen (kota Onomichi)
Kuah hampir bening rasa kecap asin dari kaldu makanan laut atau tulang ayam.
  • Hiroshima ramen (kota Hiroshima)
Kuah kecap asin dengan tambahan tauge diatasnya.
  • Tokushima Ramen (kota Tokushima)
Kuah kecap asin yang sedikit asin-pedas mirip sukiyaki ala Kansai. Penduduk setempat sering makan nasi dengan lauk ramen.
  • Nabeyaki ramen (kota Susaki)
Kuah rasa kecap asin yang dihidangkan dalam panci enamel. Di atas mi ditambahkan daging ayam, daun bawang, chikuwa dan telur mentah. Mi ini dimakan bersama asinan lobak. Ramen sering dimakan penduduk setempat bersama-sama dengan nasi.

Daerah Kyushu

  • Hakata ramen (Fukuoka)
Hakata ramen adalah ramen dengan kuah rasa tonkotsu. Di kota ini dikenal sistem tambah mi di dalam kuah dan mangkuk yang sama. Hal ini disebabkan mi untuk hakata ramen mudah menjadi melar di dalam kuah.
  • Nagahama ramen (Fukuoka)
Pada dasarnya hampir sama dengan hakata ramen, namun dengan rasa kuah yang sedikit kurang tajam.
  • Kurume ramen (kota Kurume)
Kuah rasa tonkotsu dengan penyedap berupa parutan bawang putih, wijen, dan jahe segar.
  • Kumamoto ramen (kota Kumamoto)
Kuah rasa tonkotsu dengan campuran kaldu tulang ayam. Kumamoto ramen sejenis dengan kurume ramen.
  • Miyazaki ramen (kota Miyazaki)
Ramen Kuah rasa tonkotsu dengan bumbu garam dan kecap asin. Mi ini dimakan bersama asinan lobak. Penyedap berupa campuran kecap asin dan bawang putih.
  • Kagoshima ramen (kota Kagoshima)
Kuah mempunyai rasa khas dari campuran kaldu tulang babi, kaldu tulang ayam, dan sayuran. Mi terlihat agak putih. Sebagai penyedap ditambahkan irisan daun bawang dalam jumlah banyak.
 
sumber: wikipedia

Ramen, Mie Khas Jepang

Salah satu jenis Ramen yang populer


Ramen (拉麺;ラーメン) adalah masakan mi kuah Jepang yang berasal dari cina. Orang Jepang juga menyebut ramen sebagai chuka soba (中華そば soba dari Tiongkok) atau shina soba (支那そば) karena soba atau o-soba dalam bahasa Jepang sering juga berarti mi.

Rebusan mi hasil buatan tangan atau buatan mesin diceburkan ke dalam sebuah mangkuk berisi kuah yang dibuat dari berbagai jenis kaldu (umumnya dengan dasar kaldu babi). Pada umumnya chasiu, menma, dan irisan daun bawang ditambahkan di atas mi sebagai lauk atau penyedap.

Mi yang biasanya berwarna kuning dibuat dari terigu dengan kadar gluten tinggi ditambah air dan bahan kimia tambahan seperti potasium karbonat, natrium karbonat dan kadang-kadang asam fosfat. Bahan-bahan kimia yang bersifat alkali mengubah sifat alami gluten dalam tepung terigu dan membuat mi menjadi kenyal sekaligus mengaktifkan senyawa flavonoid yang terkandung dalam tepung terigu sehingga mi berwarna kuning. Perbandingan air dan tepung terigu adalah kira-kira 1 : 35%, semakin banyak air maka semakin lunak pula mi yang dihasilkan.

Pada zaman dulu pembuatan mi di Tiongkok menggunakan air asin dari danau Kan di pedalaman Mongolia yang mengandung garam mineral alami. Di Jepang, bahan kimia tambahan untuk membuat mi sampai sekarang ini masih disebut kansui (鹹水, secara harafiah: air dari Danau Kan). Seusai Perang Dunia II, bahan kimia tambahan untuk mi yang berbahaya untuk kesehatan banyak beredar di pasaran, tapi sekarang bahan kimia tambahan sudah diatur dalam standar JAS. Bahan kimia tambahan untuk mi juga mempunyai bau tidak enak yang sering tidak disukai orang, sehingga di Jepang juga dibuat mi yang menggunakan telur sebagai pengganti bahan kimia.

Di atas ramen umumnya ditambahkan penyedap berupa beraneka ragam lauk seperti: chasiu, menma, telur rebus, sayuran hijau (seperti bayam), irisan daun bawang, nori, atau narutomaki sebagai hiasan. Telur rebus untuk ramen biasanya berwarna coklat karena direbus di dalam kuah bekas rebusan chasiu. Sayuran sekaligus penyedap yang paling umum untuk ramen adalah irisan daun bawang. Sebelum ditambahkan ke dalam ramen, sebagian penjual ramen lebih dulu menggoreng irisan daun bawang di dalam minyak goreng.

sumber: wikipedia

Kansai, Wilayah Jantung Budaya Jepang

 
Istana Himeji di Kansai


Wilayah Kansai (関西地方 Kansai-chihō) atau wilayah Kinki (近畿地方 Kinki-chihō) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah Jepang di bagian barat Pulau Honshu yang terdiri dari 7 prefektur: Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, dan Wakayama. Tergantung pada siapa yang membuat perbedaan, Fukui, Tokushima dan bahkan Tottori juga disertakan. Sedangkan penggunaan istilah "Kansai" dan "Kinki" telah berubah selama sejarah, dalam konteks yang paling modern menggunakan dua istilah dapat dipertukarkan. Wilayah perkotaan Osaka, Kobe dan Kyoto (wilayah Keihanshin) merupakan populasi terpadat kedua di Jepang setelah Tokyo Raya.

Wilayah Kansai merupakan jantung budaya dan sejarah Jepang dengan 11% dari luas daratannya dan 22.757.897 penduduk per 2010. 19,2% dari seluruh populasi penduduk Jepang ada di daerah Kansai, dan 19,3% PNB Jepang berasal dari daerah Kansai.
Istilah lain untuk menyebut daerah di sekitar ibukota kekaisaran Jepang zaman kuno di Kyoto adalah Kinki-chiho (近畿地方). Daerah Kinki terdiri dari 6 prefektur: Prefektur Shiga, Kyoto, Hyogo, Osaka, Nara, dan Wakayama. Istilah Kinki berasal dari kata "kin" (近, sekitar) dan "ki" (畿, istana kaisar). Dalam buku pelajaran geografi, Prefektur Mie dan Prefektur Fukui juga dimasukkan ke dalam daerah Kinki.
Secara historis, ketika ibu kota Jepang berada di Kyoto, Kinki berarti lima provinsi di sekeliling Kyoto: Yamashiro, Yamato, Kawachi, Izumi, dan Settsu. Sementara itu, istilah Kansai mengacu kepada pos-pos perbatasan yang terdapat di Suzuka (Prefektur Mie), Fuwa (Prefektur Gifu), dan Arachi (Prefektur Fukui).
Istilah Kansai sekarang ini berarti wilayah yang mencakup Prefektur Osaka, Prefektur Kyoto, Prefektur Nara, Prefektur Hyogo, Prefektur Wakayama, dan Prefektur Shiga. Sementara itu, cakupan wilayah Kinki lebih luas, yakni wilayah Kansai ditambah Prefektur Mie dan sebagai dari Prefektur Fukui.

Penduduk Osaka yang tidak menyukai hal-hal kepemerintahan, lebih menyenangi sebutan wilayah Kansai untuk nama wilayah tempat tinggalnya. Sebutan wilayah Kinki tidak disenangi penduduk Osaka karena nama kantor-kantor pemerintahan hampir semuanya memakai kata Kinki. Istilah Kansai berkaitan erat dengan budaya dan gaya hidup, misalnya dikenal istilah dialek Kansai (Kansai-ben) atau rasa ala Kansai (Kansaifu-aji). Nama proyek-proyek besar juga banyak yang memakai istilah Kansai dan bukan Kinki, misalnya: Bandar Udara Internasional Kansai dan Kota Sains Kansai.

Pada umumnya, istilah Kansai lebih populer dibandingkan dengan istilah Kinki-chiho. Istilah Kansai lebih banyak digunakan dalam hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, sedangkan istilah Kinki-chiho untuk hal yang bersifat ilmiah, seperti penulisan sejarah, kartografi, dan prakiraan cuaca. Istilah orang Kansai (関西人, Kansai-jin) mengacu pada orang yang tinggal di daerah Kansai, tetapi tidak pernah ada sebutan orang Kinki
 
Istilah Kansai (関西), Kinki (近畿), dan Kinai (畿内) memiliki sejarah yang sangat mendalam, sama tuanya dengan sejarah bangsa Jepang. Sebagai bagian dari reformasi Ritsuryō dari abad ke-7 dan ke-8, provinsi Yamato, Yamashiro, Kawachi, Settsu dan Izumi dibentuk menurut sistem Gokishichidō. Kinai dan Kinki, keduanya memiliki arti "lingkungan ibu kota". Dalam penggunaan umum, Kínai sekarang ini merujuk ke wilayah Osaka-Kobe-Kyoto (Keihanshin) yang merupakan pusat wilayah Kansai.

Kansai (arti harfiah pos barat) merujuk pada wilayah di sebelah barat pos penjagaan Osaka (逢坂関), yakni perbatasan antara Provinsi Yamashiro dan Provinsi Ōmi (sekarang Prefektur Kyoto dan Prefektur Shiga).Pada zaman Kamakura, perbatasan ini diatur kembali dengan menyertakan Provinsi Ōmi dan Provinsi Iga. Definisi wilayah Kansai seperti sekarang, baru ditetapkan pada zaman Edo. (lihat Kamigata). Seperti halnya semua nama-nama wilayah (daerah) di Jepang, wilayah Kansai bukanlah sebuah wilayah administrasi, melainkan sebutan untuk wilayah budaya dan sejarah.

sumber: wikipedia

Kushikatsu, Makanan Khas Dari Kansai, Jepang

 
Kushikatsu Yang Dihidangkan di Restoran Jepang


Kushikatsu (串カツ) adalah makanan asal daerah Kansai di Jepang berupa potongan kecil makanan laut, daging dan sayuran yang ditusuk dengan tusukan bambu yang dicelup ke dalam adonan tepung terigu dan dilapisi tepung panir sebelum digoreng di dalam minyak yang banyak. Makanan dinamakan kushikatsu karena merupakan katsu (goreng daging dengan tepung panir) yang ditusuk pada kushi (tusukan bambu).
Di daerah Kanto, kushikatsu dikenal dengan nama Kushiage, berupa potongan daging babi sebesar 3-4 cm, yang ditusuk berselang-seling dengan bawang bombay atau daun bawang dan digoreng setelah dilapis dengan tepung panir.
Kushikatsu konon diciptakan di kawasan Shinsekai, distrik Naniwa-ku, Osaka.

Kushikatsu merupakan bagian dari budaya makan sambil berdiri yang biasanya dinikmati sebagai jajanan teman minum bir di kios atau warung sempit yang tidak menyediakan kursi. Irisan kol juga sering diberikan secara gratis kepada pengunjung kios yang makan kushikatsu.
Setusuk kushikatsu dicelup ke dalam wadah besar berisi saus uster sebelum dimakan. Wadah berisi saus uster dimaksudkan untuk digunakan bersama-sama dengan pengunjung lain, sehingga pengunjung hanya diperbolehkan mencelup setusuk kushikatsu sekali saja. Setusuk kushikatsu dilarang keras untuk dicelup lagi ke dalam wadah saus kalau sudah dimakan sebagian. Pada dinding penjual kushikatsu biasanya ditempelkan peringatan yang berbunyi: "dilarang keras mencelup 2 kali ke dalam saus."

Penjual kushikatsu berusaha meningkatkan citra kushikatsu dari makanan murah menjadi makanan mahal dengan mendirikan restoran khusus kushikatsu. Kushikatsu disajikan ala masakan Eropa dengan menghidangkan kushikatsu setusuk demi setusuk sesuai urutan yang sudah ditentukan. Penjual bahkan ada menggunakan saus tartar dan bukan saus uster untuk makan kushikatsu.


Macam-macam kushikatsu

  • Daging sapi yang dipotong persegi empat
  • Bagian dada ayam
  • Sosis
  • Potongan ikan salmon
  • Potongan ikan yang berdaging putih
  • Potongan ikan kembung
  • Potongan ikan selar
  • Udang
  • Kerang
  • Tiram
  • Potongan Cumi-cumi
  • Chikuwa
  • Hampen
  • Cabai hijau
  • Jamur Shiitake
  • Onion ring
  • Daun bawang
  • Terong
  • Kentang
  • Ubi jalar
  • Paprika
  • Labu parang
  • Brokoli
  • Asparagus hijau
  • Paprika isi daging
  • Asparagus bungkus bacon
  • Gyoza
  • Somai
  • Lumpia
  • Bola daging ayam cincang
  • Telur puyuh
sumber: wikipedia

Friday, March 27, 2015

Mengenal Suku Ainu

Gambar : Orang Suku Ainu

Suku Ainu (アイヌ) IPA: [ʔáinu] (juga disebut Ezo dalam teks-teks sejarah) adalah sebuah kelompok etnis pribumi di Hokkaidō, Kepulauan Kuril, dan sebagian besar Sakhalin. Diduga ada lebih dari 150.000 orang Ainu saat ini; namun jumlahnya yang pasti tidak diketahui karena banyak orang Ainu yang menyembunyikan asal usul mereka karena masalah etnis di Jepang. Seringkali orang Ainu yang masih hidup pun tidak menyadari garis keturunan mereka, karena orang tua dan kakek-nenek mereka merahasiakannya untuk melindungi anak-anak mereka dari masalah sosial.
Etnonim mereka yang paling terkenal berasal dari kata aynu, yang berarti "manusia" (dibedakan dengan kamuy, makhluk ilahi) dalam dialek Hokkaidō dari bahasa Ainu; Emishi, Ezo atau Yezo (蝦夷) adalah istilah-istilah bahasa Jepang, yang diyakini berasal dari bentuk leluhur kata Ainu Sakhalin modern enciw atau enju, yang juga berarti "manusia". Istilah Utari (ウタリ) (artinya "kamerad" dalam bahasa Ainu) kini lebih disukai oleh sejumlah anggota kelompok minoritas ini.
Suku Ainu lama dipaksa oleh pemerintah Jepang untuk berasimiliasi dengan orang Jepang (suku Yamato). Pemerintah mengesahkan undang-undang pada tahun 1899 yang menyatakan bahwa suku Ainu adalah "bekas pribumi" (disebut "bekas" karena suku Ainu dimaksud akan berasimilasi). Pada 6 Juni 2008 parlemen Jepang mengesahkan resolusi yang mengakui bahwa suku Ainu adalah "suku pribumi dengan bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan yang berbeda" sekaligus membatalkan undang-undang tahun 1899 tersebut.

Asal-usul

Asal-usul suku Ainu belum sepenuhnya diketahui. Mereka seringkali dianggap Jōmon-jin, penduduk asli Jepang dari periode Jōmon. Penelitian DNA mutakhir mengatakan bahwa mereka adalah keturunan dari suku Jomon kuno di Jepang. "Suku Ainu yang tinggal di tempat ini seratus ribu tahun sebelum Anak-anak Matahari datang" dikisahkan dalam salah satu dari Yukar Upopo (legenda Ainu) mereka.
Budaya Ainu berasal dari sekitar 1200 M dan penelitian mutakhir berpendapat bahwa hal ini berasal dalam penggabungan budaya Okhotsk dan Satsumon. Ekonomi mereka didasarkan pada pertanian maupun berburu, menangkap ikan dan mengumpul.
Laki-laki Ainu umumnya memiliki rambut yang lebat. Banyak peneliti awal menduga bahwa mereka keturunan Kaukasus, meskipun uji DNA mutakhir tidak menemukan garis keturunan Kaukasus. Uji genetik suku Ainu membuktikan bahwa mereka tergolong terutama kepada grup haplo-Y D.
Satu-satunya tempat di luar Jepang di mana grup haplo-Y D lazim ditemukan adalah Tibet dan Kepulauan Andaman di Samudra Hindia. Dalam sebuah studi oleh Tajima et al. (2004), dua dari 16 sampel (atau 12,5%) laki-laki Ainu ditemukan tergolong dalam grup haplo C3, yaitu grup haplo dengan kromosom Y yang paling umum di antara penduduk-penduduk pribumi di Rusia Timur Jauh dan Mongolia; Hammer et al. (2006) menguji empat sampel lagi dari laki-laki Ainu dan menemukan bahwa salah satunya tergolong ke dalam grup haplo C3.
Beberapa penelitia berspekulasi bahwa pembawa grup haplo C3 yang minoritas di antara suku Ainu ini mungkin mencerminkan suatu tingka tertentu dari pengaruh genetik satu arah dari suku Nivkh, yang dengannya suku Ainu telah lama memiliki interaksi budaya. Menurut Tanaka et al. (2004), garis mtDNA mereka umumnya terdiri dari grup haplo Y (21,6%) dan grup haplo M7a (15,7%). Evaluasi kembali belakangan ini tentang ciri-ciri tulang tengkorak mereka menunjukkan bahwa suku Ainu lebih mirip dengan suku Okhotsk daripada dengan suku Jōmon. Hal ini sesuai dengan rujukan kepada budaya Ainu sebagai gabungan dari budaya Okhotsk dan Satsumon yang dirujuk di atas.

Sumber : id.wikipedia.org

Thursday, March 26, 2015

Apa Itu Onsen??

Gambar : Onsen

Onsen (温泉) adalah istilah bahasa Jepang untuk sumber air panas dan tempat mandi berendam dengan air panas yang keluar dari perut bumi. Penginapan yang memiliki tempat pemandian air panas disebut penginapan onsen (onsen yado). Kota wisata yang berkembang di sekeliling sumber air panas disebut kota onsen.
Sumber air panas memiliki dua sumber panas, magma yang berada di dasar gunung berapi, dan panas yang bukan dari gunung berapi. Jenis mineral yang dikandung air menyebabkan perbedaan warna air, bau, dan khasiat mandi dengan air panas tersebut.
Menurut definisi Undang-Undang Onsen Jepang, walaupun suhunya tidak tinggi, istilah onsen juga digunakan untuk air dari mata air dengan kandungan mineral yang berbeda dari air biasa, dan berasal dari sumber air yang mengeluarkan gas. Sumber air panas bisa berupa air tanah yang dipanaskan oleh panas bumi atau dipanaskan manusia dengan sumber panas. Air panas bisa keluar secara alami dari dalam tanah, atau keluar setelah dibor manusia.
Lokasi untuk sumber air panas bisa berada dekat gunung berapi atau jauh dari gunung berapi. Sumber air panas yang berlokasi jauh dari gunung berapi mendapat panas dari gradien geotermal (suhu air semakin tinggi bila sumur digali semakin dalam) atau sumber panas yang tidak diketahui. Onsen yang berada di kawasan rawa gambut seperti Tokachigawa Onsen, Hokkaido disebut moor onsen (moor dalam bahasa Jerman berarti rawa).

Sumber : id.wikipedia.org

Apa Itu Geta??

Gambar : Geta

Geta (下駄) adalah alas kaki tradisional Jepang yang dibuat dari kayu. Pada bagian alas (dai) terdapat tiga buah lubang untuk memasukkan tali berlapis kain yang disebut hanao (鼻緒). Dua buah hak yang disebut ha ("gigi") terdapat di bagian bawah alas (sol). Geta dipakai di luar ruangan sewaktu mengenakan yukata atau kimono yang bukan kimono formal. Hak tinggi pada geta memudahkan pemakainya berjalan melewati jalan becek ketika hujan.
Geta dipakai dengan kaki telanjang (sewaktu mengenakan yukata) atau dengan mengenakan kaus kaki yang disebut tabi. Cara memakai geta seperti cara memakai sandal jepit, hanao dijepit di antara ibu jari dan telunjuk kaki. Sewaktu mengenakan yukata, geta dipakai dengan kaki telanjang. Pemandian air panas (onsen) dan penginapan tradisional (ryokan) biasanya menyediakan geta yang bisa dipinjam oleh tamu.
Menurut pendengaran orang Jepang, "karankoron" adalah bunyi geta ketika dipakai berjalan. Dalam mitologi Jepang, Tengu mengenakan geta berhak satu seperti dikenakan biksu yang sedang melatih diri di hutan dan gunung.

Sejarah

Berdasarkan hasil penggalian di situs arkeologi terungkap bahwa geta sudah dipakai orang Jepang sejak zaman Yayoi. Geta diperkirakan dipakai sewaktu bekerja menanam padi di sawah yang selalu berair agar kaki tetap bersih dan kering. Dalam esai klasik Makura no Sōshi dari zaman Heian disebut tentang alas kaki yang disebut Kure no ashida (nama lain untuk geta). Dalam lukisan dari akhir zaman Heian hingga zaman Sengoku juga sering digambarkan orang yang sedang memakai geta sewaktu mencuci atau mengambil air.
Pengrajin geta banyak bermunculan sejak pertengahan zaman Edo. Mereka menciptakan berbagai jenis geta yang membuat geta populer sebagai alas kaki rakyat. Orang mulai menyebut semua alas kaki dari kayu seperti bokuri atau ashida sebagai geta. Walaupun pakaian Barat mulai dikenal di Jepang sejak zaman Meiji, rakyat tetap mengenakan kimono dengan alas kaki berupa geta.

Sumber :  id.wikipedia.org