Pemandangan Gunung Fuji dan Pohon Maple Daun Merah

Pemandangan Gunung Fuji dan Pohon Maple Daun Merah

Sunday, March 29, 2015

Kushikatsu, Makanan Khas Dari Kansai, Jepang

 
Kushikatsu Yang Dihidangkan di Restoran Jepang


Kushikatsu (串カツ) adalah makanan asal daerah Kansai di Jepang berupa potongan kecil makanan laut, daging dan sayuran yang ditusuk dengan tusukan bambu yang dicelup ke dalam adonan tepung terigu dan dilapisi tepung panir sebelum digoreng di dalam minyak yang banyak. Makanan dinamakan kushikatsu karena merupakan katsu (goreng daging dengan tepung panir) yang ditusuk pada kushi (tusukan bambu).
Di daerah Kanto, kushikatsu dikenal dengan nama Kushiage, berupa potongan daging babi sebesar 3-4 cm, yang ditusuk berselang-seling dengan bawang bombay atau daun bawang dan digoreng setelah dilapis dengan tepung panir.
Kushikatsu konon diciptakan di kawasan Shinsekai, distrik Naniwa-ku, Osaka.

Kushikatsu merupakan bagian dari budaya makan sambil berdiri yang biasanya dinikmati sebagai jajanan teman minum bir di kios atau warung sempit yang tidak menyediakan kursi. Irisan kol juga sering diberikan secara gratis kepada pengunjung kios yang makan kushikatsu.
Setusuk kushikatsu dicelup ke dalam wadah besar berisi saus uster sebelum dimakan. Wadah berisi saus uster dimaksudkan untuk digunakan bersama-sama dengan pengunjung lain, sehingga pengunjung hanya diperbolehkan mencelup setusuk kushikatsu sekali saja. Setusuk kushikatsu dilarang keras untuk dicelup lagi ke dalam wadah saus kalau sudah dimakan sebagian. Pada dinding penjual kushikatsu biasanya ditempelkan peringatan yang berbunyi: "dilarang keras mencelup 2 kali ke dalam saus."

Penjual kushikatsu berusaha meningkatkan citra kushikatsu dari makanan murah menjadi makanan mahal dengan mendirikan restoran khusus kushikatsu. Kushikatsu disajikan ala masakan Eropa dengan menghidangkan kushikatsu setusuk demi setusuk sesuai urutan yang sudah ditentukan. Penjual bahkan ada menggunakan saus tartar dan bukan saus uster untuk makan kushikatsu.


Macam-macam kushikatsu

  • Daging sapi yang dipotong persegi empat
  • Bagian dada ayam
  • Sosis
  • Potongan ikan salmon
  • Potongan ikan yang berdaging putih
  • Potongan ikan kembung
  • Potongan ikan selar
  • Udang
  • Kerang
  • Tiram
  • Potongan Cumi-cumi
  • Chikuwa
  • Hampen
  • Cabai hijau
  • Jamur Shiitake
  • Onion ring
  • Daun bawang
  • Terong
  • Kentang
  • Ubi jalar
  • Paprika
  • Labu parang
  • Brokoli
  • Asparagus hijau
  • Paprika isi daging
  • Asparagus bungkus bacon
  • Gyoza
  • Somai
  • Lumpia
  • Bola daging ayam cincang
  • Telur puyuh
sumber: wikipedia

Friday, March 27, 2015

Mengenal Suku Ainu

Gambar : Orang Suku Ainu

Suku Ainu (アイヌ) IPA: [ʔáinu] (juga disebut Ezo dalam teks-teks sejarah) adalah sebuah kelompok etnis pribumi di Hokkaidō, Kepulauan Kuril, dan sebagian besar Sakhalin. Diduga ada lebih dari 150.000 orang Ainu saat ini; namun jumlahnya yang pasti tidak diketahui karena banyak orang Ainu yang menyembunyikan asal usul mereka karena masalah etnis di Jepang. Seringkali orang Ainu yang masih hidup pun tidak menyadari garis keturunan mereka, karena orang tua dan kakek-nenek mereka merahasiakannya untuk melindungi anak-anak mereka dari masalah sosial.
Etnonim mereka yang paling terkenal berasal dari kata aynu, yang berarti "manusia" (dibedakan dengan kamuy, makhluk ilahi) dalam dialek Hokkaidō dari bahasa Ainu; Emishi, Ezo atau Yezo (蝦夷) adalah istilah-istilah bahasa Jepang, yang diyakini berasal dari bentuk leluhur kata Ainu Sakhalin modern enciw atau enju, yang juga berarti "manusia". Istilah Utari (ウタリ) (artinya "kamerad" dalam bahasa Ainu) kini lebih disukai oleh sejumlah anggota kelompok minoritas ini.
Suku Ainu lama dipaksa oleh pemerintah Jepang untuk berasimiliasi dengan orang Jepang (suku Yamato). Pemerintah mengesahkan undang-undang pada tahun 1899 yang menyatakan bahwa suku Ainu adalah "bekas pribumi" (disebut "bekas" karena suku Ainu dimaksud akan berasimilasi). Pada 6 Juni 2008 parlemen Jepang mengesahkan resolusi yang mengakui bahwa suku Ainu adalah "suku pribumi dengan bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan yang berbeda" sekaligus membatalkan undang-undang tahun 1899 tersebut.

Asal-usul

Asal-usul suku Ainu belum sepenuhnya diketahui. Mereka seringkali dianggap Jōmon-jin, penduduk asli Jepang dari periode Jōmon. Penelitian DNA mutakhir mengatakan bahwa mereka adalah keturunan dari suku Jomon kuno di Jepang. "Suku Ainu yang tinggal di tempat ini seratus ribu tahun sebelum Anak-anak Matahari datang" dikisahkan dalam salah satu dari Yukar Upopo (legenda Ainu) mereka.
Budaya Ainu berasal dari sekitar 1200 M dan penelitian mutakhir berpendapat bahwa hal ini berasal dalam penggabungan budaya Okhotsk dan Satsumon. Ekonomi mereka didasarkan pada pertanian maupun berburu, menangkap ikan dan mengumpul.
Laki-laki Ainu umumnya memiliki rambut yang lebat. Banyak peneliti awal menduga bahwa mereka keturunan Kaukasus, meskipun uji DNA mutakhir tidak menemukan garis keturunan Kaukasus. Uji genetik suku Ainu membuktikan bahwa mereka tergolong terutama kepada grup haplo-Y D.
Satu-satunya tempat di luar Jepang di mana grup haplo-Y D lazim ditemukan adalah Tibet dan Kepulauan Andaman di Samudra Hindia. Dalam sebuah studi oleh Tajima et al. (2004), dua dari 16 sampel (atau 12,5%) laki-laki Ainu ditemukan tergolong dalam grup haplo C3, yaitu grup haplo dengan kromosom Y yang paling umum di antara penduduk-penduduk pribumi di Rusia Timur Jauh dan Mongolia; Hammer et al. (2006) menguji empat sampel lagi dari laki-laki Ainu dan menemukan bahwa salah satunya tergolong ke dalam grup haplo C3.
Beberapa penelitia berspekulasi bahwa pembawa grup haplo C3 yang minoritas di antara suku Ainu ini mungkin mencerminkan suatu tingka tertentu dari pengaruh genetik satu arah dari suku Nivkh, yang dengannya suku Ainu telah lama memiliki interaksi budaya. Menurut Tanaka et al. (2004), garis mtDNA mereka umumnya terdiri dari grup haplo Y (21,6%) dan grup haplo M7a (15,7%). Evaluasi kembali belakangan ini tentang ciri-ciri tulang tengkorak mereka menunjukkan bahwa suku Ainu lebih mirip dengan suku Okhotsk daripada dengan suku Jōmon. Hal ini sesuai dengan rujukan kepada budaya Ainu sebagai gabungan dari budaya Okhotsk dan Satsumon yang dirujuk di atas.

Sumber : id.wikipedia.org

Thursday, March 26, 2015

Apa Itu Onsen??

Gambar : Onsen

Onsen (温泉) adalah istilah bahasa Jepang untuk sumber air panas dan tempat mandi berendam dengan air panas yang keluar dari perut bumi. Penginapan yang memiliki tempat pemandian air panas disebut penginapan onsen (onsen yado). Kota wisata yang berkembang di sekeliling sumber air panas disebut kota onsen.
Sumber air panas memiliki dua sumber panas, magma yang berada di dasar gunung berapi, dan panas yang bukan dari gunung berapi. Jenis mineral yang dikandung air menyebabkan perbedaan warna air, bau, dan khasiat mandi dengan air panas tersebut.
Menurut definisi Undang-Undang Onsen Jepang, walaupun suhunya tidak tinggi, istilah onsen juga digunakan untuk air dari mata air dengan kandungan mineral yang berbeda dari air biasa, dan berasal dari sumber air yang mengeluarkan gas. Sumber air panas bisa berupa air tanah yang dipanaskan oleh panas bumi atau dipanaskan manusia dengan sumber panas. Air panas bisa keluar secara alami dari dalam tanah, atau keluar setelah dibor manusia.
Lokasi untuk sumber air panas bisa berada dekat gunung berapi atau jauh dari gunung berapi. Sumber air panas yang berlokasi jauh dari gunung berapi mendapat panas dari gradien geotermal (suhu air semakin tinggi bila sumur digali semakin dalam) atau sumber panas yang tidak diketahui. Onsen yang berada di kawasan rawa gambut seperti Tokachigawa Onsen, Hokkaido disebut moor onsen (moor dalam bahasa Jerman berarti rawa).

Sumber : id.wikipedia.org

Apa Itu Geta??

Gambar : Geta

Geta (下駄) adalah alas kaki tradisional Jepang yang dibuat dari kayu. Pada bagian alas (dai) terdapat tiga buah lubang untuk memasukkan tali berlapis kain yang disebut hanao (鼻緒). Dua buah hak yang disebut ha ("gigi") terdapat di bagian bawah alas (sol). Geta dipakai di luar ruangan sewaktu mengenakan yukata atau kimono yang bukan kimono formal. Hak tinggi pada geta memudahkan pemakainya berjalan melewati jalan becek ketika hujan.
Geta dipakai dengan kaki telanjang (sewaktu mengenakan yukata) atau dengan mengenakan kaus kaki yang disebut tabi. Cara memakai geta seperti cara memakai sandal jepit, hanao dijepit di antara ibu jari dan telunjuk kaki. Sewaktu mengenakan yukata, geta dipakai dengan kaki telanjang. Pemandian air panas (onsen) dan penginapan tradisional (ryokan) biasanya menyediakan geta yang bisa dipinjam oleh tamu.
Menurut pendengaran orang Jepang, "karankoron" adalah bunyi geta ketika dipakai berjalan. Dalam mitologi Jepang, Tengu mengenakan geta berhak satu seperti dikenakan biksu yang sedang melatih diri di hutan dan gunung.

Sejarah

Berdasarkan hasil penggalian di situs arkeologi terungkap bahwa geta sudah dipakai orang Jepang sejak zaman Yayoi. Geta diperkirakan dipakai sewaktu bekerja menanam padi di sawah yang selalu berair agar kaki tetap bersih dan kering. Dalam esai klasik Makura no Sōshi dari zaman Heian disebut tentang alas kaki yang disebut Kure no ashida (nama lain untuk geta). Dalam lukisan dari akhir zaman Heian hingga zaman Sengoku juga sering digambarkan orang yang sedang memakai geta sewaktu mencuci atau mengambil air.
Pengrajin geta banyak bermunculan sejak pertengahan zaman Edo. Mereka menciptakan berbagai jenis geta yang membuat geta populer sebagai alas kaki rakyat. Orang mulai menyebut semua alas kaki dari kayu seperti bokuri atau ashida sebagai geta. Walaupun pakaian Barat mulai dikenal di Jepang sejak zaman Meiji, rakyat tetap mengenakan kimono dengan alas kaki berupa geta.

Sumber :  id.wikipedia.org

Apa Itu Zori??

Gambar : Zori


Zōri (草履) adalah alas kaki yang dipakai orang Jepang hingga dikenalnya sepatu pada zaman Meiji. Di masa sekarang, orang Jepang hanya memakai zōri sewaktu mengenakan kimono. Berbeda dari geta yang bukan alas kaki untuk kesempatan resmi, zōri dipakai untuk segala kesempatan, termasuk sewaktu mengenakan kimono formal. Cara memakainya seperti memakai sandal jepit.
Alas (sol) berbentuk lonjong seperti keping uang zaman dulu. Berbeda dari geta, bagian alas zōri selalu datar dan tidak mempunyai hak (tumit). Pada zaman dulu, bahan untuk alas adalah lembaran gabus, namun sekarang sudah digantikan dengan lembaran plastik. Bahan pembungkus alas adalah kulit, kain, atau plastik. Pada bagian alas (dai) terdapat tiga buah lubang untuk memasukkan tali tebal yang disebut hanao yang menahan sandal agar tidak terlepas sewaktu dipakai berjalan.

Jenis

  • Zōri wanita
Dibandingkan model santai, bagian alas zōri wanita untuk dipakai dalam kesempatan formal dibuat lebih tebal dengan bagian belakang yang ditinggikan (dibuat ekstra tebal). Agar dasar tidak cepat aus, plastik uretan ditempelkan di bagian dasar yang bersentuhan dengan tanah.
  • Setta (雪駄) (zōri laki-laki)
Bentuknya hampir persegi panjang, dengan bagian bawah yang dilapis kulit sapi atau plastik uretan. Hingga saat ini, setta masih banyak penggemarnya.
  • Zōri tatami
Bahan dari serat tanaman Igusa sehingga disebut tatami omote zōri (zōri permukaan tatami). Pada zaman dulu merupakan alas kaki favorit bagi laki-laki. Sekarang sudah langka dan hanya bertahan sebagai alas kaki aktor kabuki.
  • Waraji (草鞋) (warazōri)
Disebut waraji karena dibuat dari anyaman jerami (wara), dan sering dibuat sendiri oleh petani yang memerlukannya alas kaki. Pada zaman dulu, pria atau wanita memakainya sewaktu bekerja atau bepergian jauh. Tali tambahan untuk diikatkan ke pergelangan kaki merupakan ciri khas model yang dibuat untuk berjalan jauh.
 
Sumber : id.wikipedia.org

Mengenal Apa Itu Manzai

Gambar : Pemain Manzai


Manzai (漫才) adalah seni melawak yang berasal dari daerah Kansai, Jepang. Pertunjukan Manzai biasanya dilakukan oleh dua orang yang bercakap-cakap di depan penonton menceritakan cerita yang lucu, janggal, atau tidak masuk akal dengan irama berbicara seperti bersahut-sahutan. Satu orang berperan sebagai si pintar (tsukkomi) yang berfungsi sebagai pengumpan, dan seorang lagi yang berperan sebagai si bodoh (boke) yang terus menyerocos bercerita agar penonton tertawa. Manzai bisa dikatakan mirip dengan stand-up comedy yang dikenal di Amerika Serikat.
Istilah manzai diciptakan pada tahun 1933 oleh bagian iklan promotor seni hiburan Yoshimoto Kogyo di Osaka untuk membedakan kesenian yang dipentaskannya dengan seni bercerita Mandan. Pada waktu itu, seniman Mandan sering dipekerjakan di dalam gedung bioskop untuk menjelaskan isi cerita film bisu yang sedang diputar.
Pelaku Manzai disebut Manzai-shi. Pasangan Manzai disebut Kombi. Pasangan suami-istri yang melakukan Manzai disebut Meoto manzai. Manzai yang berasal dari daerah Kansai sering juga disebut sebagai Kamigata manzai.

Sejarah

Pada zaman Heian terdapat seni pertunjukan yang dilakukan secara berkeliling untuk merayakan tahun baru. Seni tersebut juga disebut manzai (万歳), namun ditulis dengan aksara kanji yang berbeda. Seni "Manzai" pada zaman Heian dilakukan oleh dua orang, seorang menabuh gendang dan seorang lagi menari-nari untuk mengucapkan selamat tahun baru sambil mengunjungi rumah-rumah penduduk. Pada zaman Edo di seluruh pelosok Jepang bermunculan berbagai jenis manzai yang dinamakan sesuai nama tempatnya berasal seperti Mikawa manzai asal Provinsi Mikawa, dan Yamato manzai asal Provinsi Yamato. Pada saat itu, artis Manzai tidak cuma memainkan musik dan menari, tapi juga bercakap-cakap menceritakan cerita lucu yang dimaksudkan untuk memancing tawa pendengar.
Pada zaman Meiji, seni manzai (万才) yang dipertunjukkan di dalam gedung di Osaka masih didasarkan pada "manzai" (万歳) zaman Heian yang memakai musik pengiring. Pasangan Tamagoya Entatsu, Sunagawa Sutemaru dan Nakamura Haruyo sering disebut sebagai pelopor Manzai. Sayangnya pada saat itu, Manzai hanya dianggap sebagai pertunjukan pelengkap karena di gedung pertunjukan lebih sering dipentaskan rakugo yang kebetulan sedang populer.
Pada akhir zaman Taisho, Yokoyama Entatsu (1896-1971) dan Hanabishi Achako (pasangan pelawak Yoshimoto Kogyo) memulai gaya manzai tanpa musik, dan hanya terdiri dari percakapan. Manzai gaya baru ini disebut syabekuri manzai yang ternyata populer dan bisa diterima masyarakat luas. Sekitar tahun 1931, promotor hiburan Yoshimoto Kogyo mulai menyingkat sebutan syabekuri manzai menjadi Manzai (漫才) seperti dikenal sekarang. Selanjutnya, Yoshimoto Kogyo melakukan ekspansi bisnis ke Tokyo. Manzai yang dipelopori pasangan Entatsu-Achako menjadi terkenal, dan bermunculan pula bintang-bintang manzai yang baru. Di zaman modern, manzai berkembang menjadi seni yang tidak hanya dipentaskan di gedung pertunjukan, melainkan juga di televisi dan radio.

Ciri khas

Berbeda dengan seni rakugo yang terikat dengan peraturan, pelawak manzai mempunyai banyak kebebasan. Pelawak boleh berbicara sambil melakukan pose atau gerakan aneh, berjoget-joget, hingga bahkan sampai memukul si bodoh. Manzai biasanya dilakukan tanpa musik, walaupun ada juga pelawak manzai yang berpentas sambil memainkan alat musik atau memakai musik latar. Selain itu, kelompok yang terdiri dari 3 orang (atau lebih) juga memainkan manzai gaya baru yang berbentuk lakon komedi.
Di atas panggung, pelawak manzai harus mengenakan pakaian terbagus yang dimiliki. Pada dasarnya, kostum pelawak manzai adalah busana pesta. Pelawak manzai pria memakai kimono atau setelan jas berikut dasi, sedangkan pelawak manzai wanita memakai kimono atau baju terusan yang berwarna-warni mencolok, lengkap dengan sepatu berhak tinggi.
Sesuai dengan perkembangan zaman, pelawak manzai sebagian berperan sebagai pelawak di televisi (Owarai Talento atau Owarai Geinin). Pakaian yang dikenakan sewaktu tampil di atas panggung adalah pakaian santai yang dikenakan sehari-hari. Pelawak manzai gaya baru sering menggunakan properti panggung, seperti kursi, meja, lemari, dan layar proyeksi.

Si pintar dan si bodoh

Pasangan pelawak manzai disebut kombi. Seorang pelawak berperan sebagai si pintar (tsukkomi) dan seorang lagi yang berperan sebagai si bodoh (boke). Peran si bodoh adalah untuk menyampaikan cerita dengan isi yang memiliki kejanggalan, sehingga aneh atau lucu, dengan tujuan memancing tawa. Pelawak yang berperan sebagai si pintar bertugas menyela cerita si bodoh, dan membetulkan bagian-bagian yang dianggap janggal, sehingga penonton tahu saat harus tertawa.
Pelawak yang menjadi si pintar kadang-kadang menggunakan kata-kata yang menghina untuk memberitahu si bodoh bahwa ceritanya aneh atau janggal. Bukan hanya itu, pelawak berperan sebagai si bodoh tidak jarang menerima tamparan dengan telapak tangan di kepala atau bagian dada. Kadang-kadang pemeran si bodoh juga harus menerima pukulan di bagian kepala dengan menggunakan kertas karton yang dilipat seperti kipas, atau mainan yang mengeluarkan bunyi pukulan yang keras.
Berbeda dengan si bodoh yang terus menerus harus bercerita, si pintar hanya sekali-kali menginterupsi cerita si bodoh. Maksudnya sebagai umpan agar si bodoh menjadi lebih lucu. Kesempatan ini juga dimanfaatkan si bodoh untuk mengambil napas, sehingga tempo cerita yang cepat dapat dipertahankan.

Pasangan manzai terkenal

  • Yumeji Itoshi dan Kimi Koishi
  • Yasushi-Kiyoshi (Yokoyama Yasushi dan Nishikawa Kiyoshi)
  • Two Beat (Beat Takeshi dan Beat Kiyoshi)
  • Unabara Senri-Mari (Kaminuma Emiko dan kakaknya)
  • Hoshi Sento-Luis (Hoshi Sento dan Hoshi Luis)
  • Nakata Kausu-Botan (Nakata Kausu dan Nakata Botan)
  • Downtown (Matsumoto Hitoshi dan Hamada Masatoshi)
Sumber : id.wikipedia.org

Wednesday, March 25, 2015

Mengenal Apa Itu Omisoka

Gambar : Perayaan Omisoka


Ōmisoka (大晦日) adalah hari terakhir dalam setahun di Jepang. Menurut kalender lama Jepang yang berdasarkan kalender lunisolar (kalender Tempō misalnya), ōmisoka jatuh pada tanggal 30 bulan 12, atau tanggal 29 bulan 12. Sesuai kalender Gregorian yang dipakai di Jepang sejak 1873, ōmisoka jatuh pada tanggal 31 Desember.
Nama lain untuk ōmisoka adalah ōtsugomori (大つごもり) yang berasal dari kata tsukigomori (月隠り) yang berarti bersembunyinya bulan.

Etimologi

Pada kalender lama Jepang, hari terakhir setiap bulan disebut misoka (晦日). Di antara misoka dalam setahun, hari terakhir pada bulan 12 atau bulan kabisat 12 disebut ōmisoka (misoka besar). Misoka berasal dari kata miso (三十, tiga puluh), misoka berarti hari ke-30. Berhubung adanya periode bulan panjang dan periode bulan pendek, ada kalanya misoka zaman dulu jatuh pada tanggal 29. Sejak dipakainya kalender Gregorian di Jepang, ōmisoka selalu dirayakan pada tanggal 31 Desember.

Tradisi pergantian tahun

Toshikoshi soba

Malam pergantian tahun merupakan saat makan toshikoshi soba (soba kuah melewatkan tahun) bersama keluarga. Mi soba yang halus dan panjang merupakan simbolisme dari harapan hidup sehat, damai, dan panjang umur. Soba dipercaya sebagai makanan sehat karena dibuat dari tepung gandum kuda yang dikenal sebagai tanaman tahan cuaca buruk. Tanaman gandum kuda kembali tumbuh sehat meskipun telah diterpa hujan dan angin kencang.
Pedagang pada zaman Edo, pada hari terakhir setiap bulannya selalu sibuk hingga larut malam. Mereka biasanya makan soba kuah untuk makan malam. Pengrajin lembaran emas memiliki kebiasaan mengumpulkan serpihan-serpihan emas memakai gumpalan adonan mi soba. Oleh karena itu, makan soba dipercaya dapat mengumpulkan uang. Soba yang mudah putus merupakan simbolisme utang yang mudah dibayar dan beban yang mudah terlepas pada tahun yang baru.

Genta tahun baru

Pemukulan genta sebanyak 108 kali di kuil-kuil Buddha menjelang pergantian tahun disebut joya no kane (除夜の鐘 genta tahun baru). Seratus delapan melambangkan:
  1. Jumlah nafsu. Manusia memiliki enam indra: mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (pencicip), kulit (peraba), pikiran (otak) yang masing-masing dapat merasakan senang, menyakitkan, dan netral (3×6= 18). Setiap nafsu dibagi menjadi dua jenis, bersih dan kotor sehingga semuanya menjadi 36. Masing-masing dari 36 nafsu dapat terjadi pada masa lalu, masa depan, atau masa kini, sehingga keseluruhannya ada 108 nafsu.
  2. Satu tahun. Setahun terdiri dari 12 bulan , 24 posisi matahari, dan 72 musim yang semuanya berjumlah 108.
  3. Penderitaan besar (shiku-hakku) yang bila diucapkan berbunyi seperti angka 4, 9 dan 8, 9. Bila dikalikan dan ditambah jumlahnya menjadi 108 (4x9 + 8x9).

Hatsumode

Setelah pergantian tahun, orang Jepang mengunjungi kuil Shinto dan kuil Buddha untuk melakukan hatsumōde. Ada pula tradisi ninenmairi (二年参り kunjungan dua tahun), yakni berkunjung ke kuil pada malam tahun baru, kembali ke rumah, dan selepas pergantian tahun kembali lagi ke kuil.

Ucapan selamat

Ucapan perpisahan menjelang tahun baru adalah "Yoi o-toshi o" (良いお年を Semoga menjadi tahun yang baik untuk Anda) atau Yoi o-toshi o omukae kudasai bila diucapkan secara formal.
Setelah tiba tanggal 1 Januari, ucapan selamat tahun baru secara formal adalah Akemashite omedetō gozaimasu (Selamat Tahun Baru), yang dapat diteruskan dengan kalimat Honnen mo dōzo yoroshiku onegaishimasu (Tahun ini juga saya mengharapkan kebaikan Anda).


Sumber : id.wikipedia.org